HUT KKR Diwarnai Demo

Dihadang Polisi, Usai Upacara Dibolehkan Masuk.

SUNGAI RAYA—Puluhan massa yang mengatasnamakan kelompok keprihatinan masyarakat mendatangi Pemkab Kubu Raya menuntut kejelasan berbagai program selama lima tahun ini. Aksi tersebut dilakukan bertepatan dengan pelaksanaan upacara HUT kelima kabupaten terbungsu di Kalbar itu..

Ketika aksi berlangsung, para pendemo yang rencananya akan menggelar aksi ketika upacara dimulai ditahan ratusan aparat kepolisian. Mereka belum diperkenankan menggelar aksi, saat upacara berlangsung.  Namun, mereka kemudian diizinkan untuk masuk ke halaman kantor bupati Kubu Raya setelah upacara selesai dilaksanakan.
DEMO: Puluhan massa yang mengatasnamakan kelompok keprihatinan masyarakat mendatangi Pemkab Kubu Raya. Mereka sempat terhadang barisan kepolisian di jalan raya. beberapa dari mereka melakukan teatrikal dengan membawa keranda mayat.   Foto Denny/Pontianak Post

"Kami menilai berbagai program yang sudah dilakukan oleh Pemkab Kubu Raya tidak berhasil, karena kami selaku masyarakat sama sekali tidak mengetahui sejauh mana realisasi dari program yang telah dilakukan. Seperti program sejuta keramba, kita tidak mengetahui dimana letak keramba-keramba itu, lalu program seragam dan sekolah gratis, namanya saja yang gratis, namun anak kami sekolah tetap saja bayar," kata Sapar yang mengklaim sebagai koordinator aksi di Sungai Raya, Selasa (17/7).

Menurut dia banyak manipulasi dari keberhasilan program yang sudah dijalankan oleh Pemkab Kubu Raya. Seperti program beras lokal, dimana dalam program itu, dijanjikan pemerintah akan membeli beras petani, namun banyak beras petani yang tidak terbeli.

Selain itu, mereka juga menuntut kejelasan dari hasil pertambangan yang ada di Kubu Raya, karena adanya investasi pertambangan namun masih banyak masyarakat yang tidak terserap bekerja dibidang itu.  "Masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan dalam program pemkab Kubu Raya yang kami nilai lebih kepada proses pencitraan Bupati Kubu Raya," katanya.

Sayangnya, saat beberapa wartawan mencoba menanyakan keluhan masyarakat yang ikut dalam aksi tersebut, seorang ibu bernama Mursani, justru mengaku dia sama sekali tidak mengetahui tujuan aksi tersebut. Ia hanya sekedar diajak dan ikut-ikutan saja. "Saya hanya diajak, jadi saya tidak tahu apa-apa.

Hanya saja secara pribadi ingin menanyakan tentang kejelasan program bedah rumah, dimana dalam program tersebut setiap masyarakat yang rumahnya dibedah akan mendapatkan bantuan Rp5 juta, namun saya hanya mendapatkan setengah, makanya saya menanyakan kejelasan itu," katanya.

Menanggapi aksi tersebut, Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan yang menghadapi langsung massa tersebut justru menganggap aksi tersebut adalah salah satu kado ulang tahun Kubu Raya. “Kita sangat berterimkasih kepada masyarakat yang sudah datang ke kantor Bupati Kubu Raya untuk menyampaikan protesnya.

Di era reformasi ini wajar saja jika masyarakat menyampaikan aspirasinya dan saya sangat menerima hal itu, selama protes yang disampaikan bersifat membangun," kata Muda. Namun, katanya, jika ingin menyampaikan protes atau mengkritik kinerja pemerintahan, tentu harus bersifat membangun. Apalagi jika akan menyampaikan adanya indikasi penyimpangan, tentu harus didasari dengan bukti jelas.

“Perlu saya sampaikan, untuk program beras lokal Kubu Raya, tentu tidak semua beras petani bisa dibeli, karena dalam menjual beras lokal, kita juga menentukan kriteria beras itu untuk menjaga mutu dan kualitas beras yang dijual. Namun jika beras yang akan dijual petani memenuhi standar beras yang ada, tentu akan dibeli," kata Muda.

Terkait dengan program sejuta keramba, dia meminta kepada koordinator aksi tersebut untuk mengecek dulu ke lapangan, dan meminta data-data yang akurat kepada dinas terkait tentang dimana saja letak keramba itu, agar lebih jelas dan tidak asal menuduh adanya penyimpangan seperti yang disampaikan oleh massa dalam aksi tersebut.

“Kemudian untuk program seragam dan sekolah gratis, tentu tidak semuanya biaya sekolah digratiskan, karena pemkab Kubu Raya melalui dana BOSDA memang telah menggratiskan seragam utama, namun tidak untuk seragam olahraga dan kelengkapan sekolah. Namun, kita tetap berupaya memberikan beasiswa kepada siswa-siswa yang tidak mampu agar tidak bisa meneruskan sekolahnya hingga ke tingkat pendidikan tinggi dan itu sudah kita lakukan," tuturnya.

Muda menjelaskan, di Kubu Raya saat ini tidak ada pertambanga, sehingga apa yang dikeluhkan oleh masyarakat itu justru menimbulkan tanda tanya besar bagi dirinya. "Saya heran, kok bisa menyampaikan keluhan soal pertambangan, karena Kubu Raya sejauh ini tidak ada pertambangan. Jadi saya harapkan kepada masyarakat, untuk menyampaikan hal yang real dan tidak mengada-ada, apa lagi menuduh tanpa didasari hal yang kuat," katanya. (den)

Sumber : Pontianak Post

1 comment:

  1. saya juga mau menuntut kejelasan nih..... au dah kejelasan apaan

    ReplyDelete

| Copyright © 2013 Kubu Raya Mandiri