Serunya Pengalaman Liburan Di Kulon Progo - Berita Kubu Raya - Kalimantan Barat

Breaking

Unordered List

Thursday, September 14, 2017

Serunya Pengalaman Liburan Di Kulon Progo

Catatan Asep Haryono

Pada bulan Juni 2016 yang lalu, saya sekeluarga berkesempatan menikmati suasana Ramadhan dan Idul Fitri di Desa Pundak IV Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo, sekitar 1 jam perjalanan mobil dari kota Pelajar Djogjakarta.  Yang unik dari Dusun Kembang ini ternyata memiliki usaha gotong royong dengan swadaya dan swakarsa mereka memproduksi Abon Ayam khas Dusun Kembang Kulon Progo.

Usaha pengolahan dan pembuatan Abon Ayam yang dimiliki oleh warga Dusun Kembang Nanggulan Kulon Progo ini ternyata sudah digeluti sejak dua tahun yang lalu. Adalah kelompok pemberdayaan perempuan yang diberi nama “Sumber Ayem” telah mempelopori usaha kerajinan Abon Ayam ini yang ternyata mampu mengerakkan perekonomian warga Pundak IV sekaligus memberdayakan potensi kaum perempuan di desa terebut.

Bagaimana proses pembuatan Abon Sapi sederhana yang dilakukan oleh warga Pundak IV dan bagaimana mereka memasarkannya hingga ke tangan konsumen berikut catatannya.

Prospek Cerah, Perlu Bantuan Modal

“Usaha pembuatan abon ayam ini sudah berlangsung sejak tahun 2014 dan saat itu masih sangat sederhana dan belum mendapat bantuan peralatan dari pihak manapun namun seiring dengan berjalannya waktu beberapa peralatan sumbangan dari warga dan juga bantuan keuangan dan peralatan pembuatan abon ayam dari PT Sari Husada (Susu SGM)” tegas Ngafiah, ketua KPK Sumber Ayam kepada penulis.

Ngafiah menceritakan sejak dari pertama kali Kelompok Petani Kecil (KPK) Sumber Ayam ini berdiri sejak tahun 2014 yang lalu anggotanya masih sedikit.  Modal yang dihimpun dari para anggota kelompoknya sebesar Rp.200.000 per kepala keluarga yang ada di Pundak IV dikumpulkan menjadi modal bergulir.

“Dari dana yang dhimpun dari anggota inilah kemudian dibelikan peralatan untuk pembuatan Abon Ayam dan ternyata prospeknya sangat cerah” tegas Ngafiah dengan mata berbinar binar.

Kabupaten Kulon Progo yang menjadi basis pengembangan usaha mikro ini terbilang berhasil terbukti dengan semaraknya kelompok ibu ibu dan perempuan di Desa Pundak IV Kulon Progo ini khususnya terhadap warga binaan usaha mikro KPK Sumber Ayam yang berada di Desa Kembang, Pundak IV Nannggulan ini.

Sekali Produk 83 Bungkus

“Visi dan Misi daripada KPK Sumber Ayem ini adalah membangun kemampuan kaum perempuan peternak Kulon Progo menjadi kuat dan mandiri, dan misinya adalah menciptakan  Sumber Daya Manusia yang professional dengan memberikan pinjaman lunak sebagai penguatan modal kelompok” kata  Ngaifah lagi

Dalam proses pengerjaan dan pembuatan usaha abon ayam ini tentu memerlukan  banyak peralatan yang dibutuhkan agar proses pembuatan abon ayam berjalan dengan baik.

“Khusus untuk peralatan pembuatan abon ayam nya sendiri seperti kompor gas, Wajan, Timbangan, Baskom, dan pealatan  lainnya beradal dari banyak donator” tegas Ngafiah.

Saat penulis menyaksikan proses pembuatan abon ayam nya hari itu melibatkan banyak kaum perempuan warga Pundak IV.   KPK Sumber Ayem yang dipimpin Ngafiah ini tercatat pernah memperoleh Penghargaan sebgai KPK Harapan III Tingkat Propinsi D.I Yogyakarta pada tahun 2003 yang lalu

Ketika saya bertanya berapa kali produksi abon ayam ini dalam sebulan atau bagaimana proses produksinya apakah berdasarkan pesanan (order) baru proses produksi.

“Seperti hari ini kita memproduksi abon ayam dengan kapasitas 15 Kilogram mampu memproduksi 83 bungkus Abon Ayam dan siap dipasarkan ke beberapa toko dan warung terdekat sebelum melangkah kepada retailer besar seperti minimarket” tegas Ngafah

Bagaimana proses pembuatan abon ayam ini sebenarnya cukup mudah.  “Ayam yang sehat kemudian disembelih, dibersihkan kemudian direbus untuk kemudian dipisahkan antara tulang belulang dan dagingnya kemudian ditumbuk” tegas Ngafiah.

Proses selanjutnya adalah mencampurkan aneka bumbu yang sehat tidak menggunakan bahan pengawet atau pewarna dan kemudian digoreng dengan menggunakan minyak sayur yang baru sampai kering.

“Selanjutnya diangkat kemudian dimasukkan ke dalam mesin pengering (Dry) agar terpisah dengan minyaknya barulah dikemas dalam bungkus yang menarik” kata Ngaifah

Untuk menjamin produk abon ayam nya aman dikonsumsi, KPK Sumber  masihyang dpimpinnya masih memerlukan pengujian dari Balai Kesehatan dan masih berupaya guna memperoleh serifikat Halal agar bisa lebih diterima oleh konsumennya. “ Khusus untuk pengurusan pengujian kesehatan dan kehalalannya masih dalam proses dan semoga bisa turun lebih cepat” tegas mas Irfan , koordinator atau pendamping daripada KSM Sumber Ayem ini.  (Asep Haryono)

Ibu ibu Kelompok Petani Kecil (KPK) Sumber Ayem Pundak IV Nanggulan bergotong royong mengerjakan proses awal pembuatan abon ayam.  Foto Asep Haryono
Ayam yang sudah direbus masak kemudian dipisahkan antara tulang dengan dagingnya  Foto Asep Haryono
Ayam yang sudah diberi bumbu bumbu alami kemudian dimasak dengan minyak yang sehat sampai kering  Foto Asep Haryono
Proses selanjutnya adalah sentuhan akhir yakni memisahkan lagi menjadi adonan abon ayam yang siap dipacking   Foto Asep Haryono
Ibu ibu Kelompok Petani Kecil (KPK) Sumber Ayem Pundak IV Nanggulan bergotong royong mengerjakan proses pemisahan abon ayam ini untuk kemudian proses pembungkusan dalam kemasan  Foto Asep Haryono
Proses pembungkusan dalam kemasan dengan timbangan khsusus, .  Foto Asep Haryono
Abon AYam Cap Enak produksi Kelompok Petani Kecil (KPK) Sumber Ayem Pundak IV Nanggulan siap dipasarkan. Foto Asep Haryono
  


Pengalaman Merasakan Debu Vulkanik Gunung Merapi

Para pembaca yang budiman,  baiiklah kembali saya melanjutkan certia serunya pengalaman liburan di Kulon Progo beberapa tahun sebelumnya yakni tepatnya saat berlibur di tahun 2010.  

Cerita ini berdasarkan kisah yang sebenarnya terjadi di bulan November 2010 yang lalu.   Saat itu saya turut mendampingi Istri berangkat dari Pontianak (Kalimantan Barat) menuju Jogjakarta. Tiba di Bandara Adi Sucipto Jogjakarta pada tanggal 4 November 2010.   Semua rangkaiannya saya catat dengan baik di buku harian saya.  Berikut adalah kisahnya.


Terjebak di Bandara 
Ketika pesawat Batavia Air (Sekarang sudah tidak beroperasi-red) yang saya tumpangi beserta Istri dan Anak mendarat di Bandara Adisucipto , Jogjakarta pada hari Kamis 4 November 2010 sekitar pukul 16.20 WIB, suasana di Bandara Adi Sucipto Jogjakarta masih aman terkendali walaupun langit di atas kami tampak mendung dengan gumpalan awan gelap.  Dikejauhan tampak asap merapi berwarna hitam dengan latar belakang langit biru gelap kehitaman.

Dari Bandara Adi Sucipto Jogjakarta, saya pun naik mobil TAXI langsung menuju daerah Kulon Progo yang jaraknya sekitar 1 Jam dari kota Jogjakarta.   Wilayah Kulon Progo berjarak cukup jauh dari Gunung Merapi (Mungkin sekitar 40-50 KM-red).   Sesampainya di rumah, kami pun beristrahat.   Saya sudah memiliki jadual harus kembali pulang ke Pontianak  pada tanggal 6 November 2010 saat itu sesuai dengan print Tiketnya yang sudah saya miliki.

Namun manusia berkehendak, ALLAH pula yang menentukan. Pagi dinihari tanggal 5 Nopember 2010, Gunung Merapi meletus hebat. Dalam koran koran lokal dan nasional menyebut angka banyak orang tewas karena sapuan Awan Panas atau lazim disebut dengan “Wedhus Gembel” di Wilayah Cangkringan dan beberapa daerah lainnya.  

Ke esokan harinya tepatnya tanggal 6 Nopember 2010 saat itu saya pergi ke simpang Desa Kulon Progo tepatnya di perempatan BRI dengan mengendarai sepeda motor guna menyaksikan secara langsung dampak Gempa Merapi yang Debu vulkaniknya sudah sampai di Kulon Progo pagi itu. Saya sempat merekam susana gelapnya pagi itu dalam sebuah rekaman video pendek di bawah ini.
.
Video pendek yang berhasil saya rekam pada pagi hari 5 Nopember 2010 saat Kulon Progo nyaris gelap gulita karena tertutup Debu Vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Merapi. Saya harus memakai masker karena abu belerang sangat menyengat dan sangat berbahaya jika terhirup. Video recorded by Asep Haryono


Dan sudah bisa diperkirakan sebelumnya Abu Vulkanik disertai dengam material pasir menyebar ke arah Barat Daya dan Timur saat itu hingga akhirnya debu bercampur pasir itu menutupi areal Bandara Adisucipto Jogjakarta.  Akibatnya sudah bisa ditebak, Bandara Adisucipto ditutup.   Saya sudah memiliki jadual harus kembali pulang ke Pontianak  pada tanggal 6 November 2010 saat itu sesuai dengan print Tiketnya yang sudah saya milik harus menerima kenyataan tidak dapat pulang.   Bandara Adisucipto Jogjakarta ditutup untuk waktu yang belum pasti.   Saya pun terdiam membisu.

Apakah anda bisa menebak wajah dibalik kain yang difungsikan sebagai masker debu yang menutup mulut dan hidungnya ini? Apakah anda mengenalnya?  Benarkah itu saya? 
Mobil lewat di jalanan penuh debu yang dimuntahkan dari Gumung Merapi.  Anda harus menutup hidung anda dengan masker demi kesehatan.  Foto Dokumentasi Asep Haryono
Mobil lewat di jalanan penuh debu yang dimuntahkan dari Gumung Merapi.  Anda harus menutup hidung anda dengan masker demi kesehatan.  Foto Dokumentasi Asep Haryono
Daun daun pisang yang tumbuh di depan rumah di Jogjakarta juga tidak luput tertimpa debu debu Gunung Merapi.  Foto dokumentasi Asep Haryono
Daun daun pisang yang tumbuh di depan rumah kami di Desa Pundak IC Kulon Progo Jogjakarta juga tidak luput tertimpa debu debu Gunung Merapi.  Foto dokumentasi Asep Haryono

Informasi awal Bandara Adi Sucipto Jogjakarta Ditutup saya perloleh dari Running Teks JOGJA TV yang terpantau dengan baik di Kulon Progo  yang saya tonton hari itu. Saya pun tidak lantas percaya dengan apa yang saya lihat di Televisi. Maka dengan dibonceng motor sama Paman , saya pun boncengan naik motor berdua menuju Kantor Batavia yang terletak di Jalan Urip Sumohardjo, samping kampus LPP itu,

Penerbangan Ditunda Sampai 4 Kali
”Selamat siang Bapak. Karena situasi yang belum memungkinkan untuk sementara jadual penerbangan Bapak untuk penerbangan tanggal 6 Nopember 2010 ke Pontianak dibatalkan, dan Bapak bisa dapat konfirmasi ulang jadualnya di hari yang lain atau tiketnya diuangkan kembali melalui kantor kami di sini” kata Ursula Dinihari, staf PT Metro Batavia waktu itu.

Kalau begini caranya kapan saya bisa kembali ke Pontianak?. Bayangan saya waktu itu saya pasti memperoleh hukuman karena dianggap alpa atau mangkir dari pekerjaan berhari hari. Saya seharusnya sudah berada di Pontianak pada tanggal 6 Nopember 2010 waktu itu. Dan memang berkali kali saya mengontak maskapai penerbangan itu dan terjadi pembatan hingga 3 (tiga) kali yakni mulai dari tanggal 6 Nopember menjadi tanggal 8 Nopember, lalu menjadi tanggal 10 Nopember hingga pada akhirnya masih dibatalkan lagi ke tanggal 13 Nopember 2010.

Padahal ini semua bukan kehendak saya. Pembatalan Penerbangan saya dilakukan sepihak oleh Maskapai Penerbangan Batavia, ditambah lagi dengan Bandara Adisucipto yang masih ditutup karena terkena guyuran abu vulkanik bercampur Pasir yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah dibatalkan oleh Maskapai Penerbangan ditambah lagi dengan Bandara Adi Sucipto di tutup untuk semua penerbangan. Lengkaplah sudah penderitaan saya waktu itu.

Sambil menunggu kepastian Bandara Adisucipto dibuka agar saya bisa segera kembali ke Pontianak,  saya pun menyempatkan diri untuk sekedar "jalan jalan"  , saya pun menyempatkan diri pergi mengunjungi saudara yang berada di Jalan Godean yang berjarak lebih kurang 20 (duapuluh) Kilometer dari Puncak Merapi.

Pulang Lewat Soekarno Hatta Jakarta
Saya pun bisa melihat dengan mata telanjang kepulan asap hitam yang keluar dari puncak merapi dari jalan raya Godean. Asap memutih bercampur kehitaman itu saya duga adalah awan panas Merapi.

Saya pun sempat melewat Kali Code yang berwarna hitam kecoklatan bercampur lahar dingin Merapi. Kali Code yang saat itu mengalami pendangkalan itu jika ditelusuri ke pangkalnya akan sampai pada Gunung Merapi. Saya pun sempat melihat beberapa posko pengungsian di Kulon Progo yang menjadi posko pengungsi dari Muntilan dan sekitarnya.

Heran juga disaat tidak mementu bisa pulang atau tidak ke Pontianak, saya malah sempat sempatnya berburu oleh oleh khas makanan Jogjakarta yang bisa diperoleh dengan mudah di pasar Godean Jogjakarta seperti Belut Goreng, Bakpia aneka rasa seperti durian, coklat dan Susu. Juga makanan khas daerah Kulon Progo seperti Geblek yang bentuknya mirip pempek Palembang itu. Banyak foto dan video yang berhasil saya abadikan selama berburu oleh oleh dan sopenir di Jogjakarta waktu itu.

Namun lagi jadual penerbangan pulang saya ditunda lagi oleh maskapai penerbangan Batavia Air hingga ke tanggal 15 Nopember 2010 karena debu merapi masih tebal di Bandara Adisucipto.

“Debu debu ini memang sangat berbahaya dan amat ditakuti oleh para pilot pesawat komersial karena jika debu itu masuk ke dalam mesin pesawat bisa berdampak amat membahayakan” kata Ursula di kantornya. Dia pun tidak menjamin tidak akan ada penundaan lagi jika debu vulkanik masih menyelimuti Bandara Adisucipto Jogjakarta.

Saya pun segera menguangkan kembali harga tiket saat itu dan membeli tiket pulang ke Pontianak pada tanggal 13 Nopember 2010 rute tujuab Jakarta – Pontianak. Ya akhirnya saya pun memutuskan untuk berangkat pulang ke Pontianak melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta di Jakarta. Tiket pesawat bisa dipesan dari mana saja baik secara langsung maupun secara daring seperti di tiket.com yang memang keren

Seperti dalam film “Terminal” yang dibintangi oleh Tom Hank. Menunggu juga bisa menjadi hal yang menarik karena dalam masa menunggu itulah banyak hal yang bisa kita kerjakan sehingga kehidupan tidak akan menjadi membosankan. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengisi kekosongan selama masa menunggu itu. Dimana mana menunggu memang sangat tidak menyenangkan
 

Menjelajahi Candi Prambanan
Pada bagian kali ini saya ajak para pembaca untuk kembali ke tahun 2016 dari catatan Serunya Pengalaman Liburan di Kulon Progo ini.  Semua detail lengkap perjalanan liburan saya tercatat dengan baik dalam jurnal travel yang saya miliki.

Pada tanggal 11 Juli 2016.  Agenda saya di hari itu adalah menjelajahi Candi Prambanan, candi umat Hindu terbesar di Indonesia saat ini memang banyak memancing minat banyak wisatawan dalam dan luar negeri yang berkunjung selama musim liburan  

INDAH :  Candi Prambanan tampak megah diambil gambarnya dari luar. Foto diambil pada tanggal 11 Juli 2016 dengan menggunakan Android Samsung Galaxy Grand Prime.  Foto Asep Haryono
INDAH :  Candi Prambanan tampak megah diambil gambarnya dari luar. Foto diambil pada tanggal 11 Juli 2016 dengan menggunakan  kamera HP.  Foto Asep Haryono

Walaupun Hari senin 11 Juli 2016 menjadi hari kerja bagi yang sudah mulai menjalankan antifitas sehari hari , namun pengunjung yang saya saksikan hari itu sepeti tidak terpengaruh sama sekali.  Candi Prambanan penuh sesak oleh wisatawan domestik dan mancangera.

Tadinya saya rencanakan untuk mengunjungi Candi Prambanan di hari minggu 10 Juli 2016 yang lalu atau H+2 dari hari Raya Idul Fitri saat itu, namun saya batalkan sebab hari itu dipekirakan puncak arus Balik dari dan keluar Yogyakarta.  Namun Alhamdulillah ditemani dengan pemandu wisata kenalan saya, Mas Sabiyan, saya berhasil menjelajahi Candi Prambanan tersebut pada hari yang sama, Senin 11 Juli 2016. berikut catatannya.


5000 Rupiah saja
Saya menumpang motor tetangga saya, Mas Sabiyan, yang juga seorang pemandu wisata saya selama liburan di Kulon Progo dan Jogjakarta. Beliau adalah keluarga dari pihak istri saya.   Pemuda aseli Kulon Progo yang rajin merawat orang tuanya yang sudah sepuh saat masih hidup ini saya mintakan bantuannya untuk mengantar saya hari itu ke Candi Prambanan.

Walau pun ada sedikit kekuatiran beliau menolak karena “kesibukan” beliau yang harus merawat ibunya (almarhumah) yang sudah sepuh dan terbaring di tempat tidur.  Namun Alhamdulillah beliau dengan senang hati siap mengantar saya ke Candi Prambanan pagi hari.

“Sekitar jam 8 ya aja ya santai” kata mas Sabiyan,   Saya pun mengangguk dengan tenang. “ah jam 8 kan masih lama sekarang saja masih jam 07 00 WIB pagi saya saja masih membaca Koran Kedaultan Rakyat” gumam saya dalam hati.  Candi Prambanan di hari pertama lebaran, seperti yang dikutip oleh koran Kedaulatan Rakyat tanggal 6 Juli 2016 tercatat jumlah pengunjungnya mencapai 5.287 orang.  Namun sehari setelahnya, jumlah pengunjung candi Prambanan melonjak drastis.

Koran Kedaularan Rakyat menyebut dari tanggal 1-9 Juli 2016 jumlah pengunjung tercatat 105.809 orang termasuk paket Prambanan Boko serta wisatawan mancanegara.   Penasaran juga membaca berita tersebut, seolah sekalian ingin membuktikan seberapa padat sih pengunjung candi Prambanan pasca Lebaran ini.

Jam menunjukkan pukul 08.15 WIB pagi,  saya pun bergegas menyambangi rumah mas Sabiyan, yang memang berdekatan dengan rumah mertua saya selama mudik di Kulon Progo ini,  Sama sama warga Pundak IV, dan kami bertetangga.   Namun setelah ditunggu hamper 1 jam lamanya, dan saya sudah siap “tempur” dengan tas ransel ala backpacker, dan  tentu saja memakai sandal jepit.  Saya sengaja tidak memakai sepatu saat itu.  Lebih enak pakai sendal jepit  tidak apa disebut ndeso  hehe

Saya duduk di depan rumah Mas Sabiyan, pemandu saya.  Saya sampai terkantuk kantuk menunggu mas Sabiyan keluar dari rumahnya.   Bibi dan saudara mas Sabiyan pun kaget dan menanyakan kepada saya mau pake apa ke candi Prambanan, dan saya jawab pake kendaraan Umum (bus).

“Waah nda bisa pasti lama, belum lagi nyangkut nyangkutnya, dan harus nyambung satu satu ke lokasi Candinya, ya sudah pake motor saja, nanti disiapkan” tawar Mba Nur, yang masih family mas Sabiyan.   Orangnya berkulit kuning dengan rambut dikepang atau dikuncir dan berkaca mata bulat.

Mba Nur yang sekilas mirip gadis manis keturunan, Mei mei di kartun UPIN dan IPIN ini menyerahkan kunci motor (beserta motornya juga), 2 buah helm dan STNK kecuali SIM.  Saya sudah mempunyai SIM sendiri.  “ Wah lengkap kalau begini surat suratnya beres” kata saya.

Yang penasaran sama wajah Mbak Nur bisa lihat figur Mei Mei dalam kartun Upin dan Ipin ini.  Seperti inilah.  Gambar anggapratama9c.blogspot.co.id

Tepat pukul 09.15 WIB, saya dan mas Sabiyan pun meluncur tralala ke Candi Prambanan.  Saya diminta menjadi sopir atau yang membawa motor, sedangkan pemandu saya, mas Sabiyan duduk di belakang sebagai penumpang.
“dah kamu saja yang bawa motornya soalnya saya nda tidak punya SIM” kata Mas Sabiyan.  Huaaa

Perjalanan motor ditempuh lebih kurang 1 jam setengah  hingga sampailah kami berdua di parkiran motor kawasan Candi Prambanan.   Kami masuk ke halaman khusus parkir kendaraan roda dua (motor) . Setelah membayar TMTP (Tanda Masuk Taman Parkir)  Borobudur – Prambanan- Ratu Boko sebesar Rp.3.000,- kami pun masuk  Petugas parkir nya semuanya berkemeja putih dengan celana panjang hitam dan mengenakan ID card,  Semuanya lanang (laki laki), dan tidak terlihat yang perempuan.

Yang unik dari karcis parkir ini adalah himbauan yang tertulis pada kertas parkirnya yang menghimbau agar pemilik kendaraan bermotor untuk TIDAK meninggalkan karcis parkirnya di kendaraan.  Namun kenyataannya yang saya lihat karcis karcis saya yang sudah lunas di loket, justru direkatkan atau  ditempel  di kabel rem depan motor saya atau di dekat stang kemudi oleh petugasnya .   

“Sewa payung mas?”
 tawar seorang penjaja sewa Payung yang berdiri dekat saya dan mas Sabiyan.  “Pinten sewane mas e” (Berapa harga sewanya mas) kata saya yang sok ngerti Bahasa Jawa. “Limangewu mas” (lima ribu rupiah mas) jawab mas itu,

Penjaja payung itu menjelaskan sewa dengan tarif segitu sampai  selesai seharian, dan dibayar setelah keluar dari candi.   Mikir juga saya  Apa selama saya nyewa nanti mas penyewa Payung itu akan mengikuti kemana saya pergi?   Nggak jadi tertarik deh.   “Sampun mas, matur suwun” (Sudah mas gak apa, terima kasih). Jawab saya yang "pamer" bahasa Jawa padahal ya cuma itu saja kosa kata yang saya hafal. 

PD dan PA

Setelah urusan perparkiran beres, saya dan mas Sabiyan pun berjalan dengan santai menuju loket masuk Candi Prambanan yang berjarak lebih dari 200 meter dari titik lokasi perparkiran motor.  

Kami berjalan dengan santai, cuaca masih lembut sinar matahari masih belum menampakan kekuatan menyengatnya.  Kami berjalanan melewati kendaraan roda empat alias mobil yang berjejer rapih. 

Dari plat kendaraannya yang bermacam macam.  Yang saya liat ada plat B (Jakarta),  H (Semarang), BK (Bali), dan masih banyak lagi lainnya   Ada plat nomor kendaraan "BH", nah loh. tunggu dulu ini plat kendaraan BH memang ada  Itu plat kendaraan dari kota Jambi.

Tidak lama kemudian sampailah saya di lokasi penjualan tiket masuk Lokasi Candi Prambanan.   Ada dua loket masuk lokasi wisata candi ini. Satu loket khusus untuk paket Candi Prambanan - Boko, dan satu loket lagi khusus upntuk candi Prambanan saja.
PARKIR MOTOR :  Sebelum masuk kawasan candi Prambanan,  para pemakai kendaraan roda dua masuk ke lokasi pakiran khusus sepeda motor di sini  Foto Asep Haryono
PARKIR MOTOR :  Sebelum masuk kawasan candi Prambanan,  para pemakai kendaraan roda dua masuk ke lokasi pakiran khusus sepeda motor di sini. Foto Asep Haryono

SEWA PAYUNG :  Cuaca panas di kawasan Candi Prambanan membuka peluang bisnis sewa payung. Tarifnya hanya 5000 rupiah bisa sewa payung seharian. Mau coba?  Foto Asep Haryono
SEWA PAYUNG :  Cuaca panas di kawasan Candi Prambanan membuka peluang bisnis sewa payung. Tarifnya hanya 5000 rupiah bisa sewa payung seharian. Mau coba?  Foto Asep Haryono

DIREKATKAN DI MOTOR :  Masuk kawasan Candi Prambanan  bagi pemotor cukup membayar 3 ribu rupiah, dan karcis nya ditinggal di kendaraan anda dengan cara ditempel.  Foto Asep Haryono
DIREKATKAN DI MOTOR :  Masuk kawasan Candi Prambanan  bagi pemotor cukup membayar 3 ribu rupiah, dan karcis nya ditinggal di kendaraan anda dengan cara ditempel. Foto Asep Haryono. 

TIKET TERUSAN :  Bagi yang memilih tiket terusan Candi Prambanan - Ratu Boko masuk ke loket ini, dan bayarlah dengan uang pas (disarankan). Foto Asep Haryono
TIKET TERUSAN :  Bagi yang memilih tiket terusan Candi Prambanan - Ratu Boko masuk ke loket ini, dan bayarlah dengan uang pas. Foto Asep Haryono

LOKET PRAMBANAN  :  Yang nemilih tiket masuk khusus Candi Prambanan saja masuk nya di loket ini, lokasi nya disebelah kanan dari loket terusan.  Harga dewasa 30 ribu rupiah.  Foto Asep Haryono
LOKET PRAMBANAN  :  Yang nemilih tiket masuk khusus Candi Prambanan saja masuk nya di loket ini, lokasi nya disebelah kanan dari loket terusan.  Harga dewasa 30 ribu rupiah saat itu.  Foto Asep Haryono

PEMERIKSAAN :  Petugas khusus yang memeriksa kembali tiket karcis masuk anda untuk dicocokkan dengan kondisi fisik pemiliknya agar  sesuai dengan tarifnya masing masing .  Foto Asep Haryono
PEMERIKSAAN :  Petugas khusus yang memeriksa kembali tiket karcis masuk anda untuk dicocokkan dengan kondisi fisik pemiliknya agar  sesuai dengan tarifnya masing masing .  Foto Asep Haryono

MASUK :  Yang sudah berhasil diverifikasi kesesuaian antara tiket yang dibayar dengan pemiliknya bisa langsung masuk ke kawasan Candi Prambanan   Foto Asep Haryono
MASUK :  Yang sudah berhasil diverifikasi kesesuaian antara tiket yang dibayar dengan pemiliknya bisa langsung masuk ke kawasan Candi Prambanan   Foto Asep Haryono

KARCIS PARKIR  :  Karcis parkir kendaraan roda dua sebelum memasuki kawasan Candi Prambanan..  Foto Asep Haryono


Karena tujuan awal saya ke Candi Prambanan saja maka loket ini yang saya pilih,  Harga tiketnya untuk pengunjung dewasa adalah Rp. 30.000,- (Tiga puluh ribu rupiah), sedangkan untuk pengunjung anak anak adalah Rp.12.500.  Satarif wisatawan asing jauh lebih mahal lagi tentunya sudah dikurs rupiahkan

"anak anak yang masuk dalam antrian tiket yang tidak berkepentingan harap tidak mengantri ya agar antrian tidak semakin panjang" teriak seorang pemandu yang saya duga adalah pihak pengelola Taman Wisata Candi Prambanan.  Saya sempat berpikir ini bisa ngakalin nih pengunjung yang bisa saja mengaku membawa anak kecil agar dapat tarif murah.   Karena sang anak tidak diperlihatkan di depan petugas tiket.

Namun nyatanya dugaan saya salah.  Sebab dibagian gerbang masuk kawasan Candi Prambana,  petugas khusus akan memeriksa lagi tiket tiket anda dan disesuaikan dengan kondisi fisik sang pemegang tiket.  Jika kedapatan orang dewasa memegang tiket masuk untuk anak kecil maka akan diminta untuk kembali membeli tiket sesuai fisiknya, dewasa.  Baru paham saya

Selain itu ada tanda dua huruf  disetiap tiket untuk membedakannya.  Kode "pd" menandakan pemilik tiketnya adalah "pengunjung dewasa", dan kode "pa" artinya "pengunjung anak".  Jadi jika anda orang dewasa kedapatan memegang tiket berkode huruf "pa" maka anda akan ditolak masuk atau diminta membayar harga tiket untuk pengunjung dewasa (pd)

Candi Yang Memang Menakjubkan
Bagi yang baru datang di blog ini dan atau yang malas membuka cerita pada bagian pertama DAY 20 : Menjelajah Candi Prambanan , dapat saya gambarkan ringkasan Bagian Pertama kemarin :

Candi Yang Masih Misteri
Dari brosur brosur yang saya dapatkan darti Tourist Information Center (TIC) atau Pusat Informasi Wisatawan yang letaknya berada di sisi kiri pintu masuk pembelian tiket masuk Karcis Terusan Candi Prambanan – Ratu Boko banyak menceritakan sejarah prambanan.

Lembaran brosurnya sendiri dicetak sederhana saja dengan tampilan warna yang cukup sederhana.    Brosur Prambanan yang saya dapatkan ini dicetak oleh PT Taman Wisata Candi – Unit Prambanan yang beralamat di Jalan Raya Yogya – Solo KM 16, Prambanan Yogyakarta  55571.

Dari brosur yang saya baca tertulis sejarah  Candi Prambanan yang konon juga identik dengan sebutan Candi Roro Jonggrang   Sudah banyak tulisan sejarah Candi Prambanan yang tersebar di Internet yang mudah diakses oleh masyarakat luas

Cukup dengan mencarinya di Google dengan keyword (kata kunci) “sejarah candi prambanan” Insya Allah akan muncul puluhan link link yang berisi tentang Sejarah Candi Prambanan.   Namun tidak ada salahnya saya tuliskan kembali intisari sejarah Candi Prambanan yang saya kutip dari Brosur Candi Prambanan yang saya dapatkan di lokasi wisata.

Candi Prambanan ini merupakan candi terbesar umat Hindu yang ada di Jawa Tengah, Dibangun sejak abad ke 9 pertengahan oleh Dinasti Sanjaya.    Beda dengan Candi Borobudur yang dibangun pada masa kejayaan Dinasti Syailendra di abad ke 8 masehi.

Candi Prambanan yang megah ini pada dasarnya memiliki 3 halaman utama yang tersusun rapih dengan arah memusat kepada halaman candi utama  yang berada di bagian tengah atau pusat.   Jumlah Candi di halaman 1 ada 16 buah , Halaman II ada 224 buah, dan di halaman III nya tidak ada sama sekali (Candi).  Jadi total keseluruhan pada mulanya sebanyak 240 buah candi.

“Candi ini sebenarnya masih misteri, mengenai siapa yang sebenarnya membangun candi Prambanan ini” terang Mas Sabiyan, guide saya selama di kawasan Candi Prambanan,

“Candi Prambanan ini terbuat dari batu yang berat, nah coba liat ukiran ukiran patung patung yang ada di dalam Candi candi ini semuanya rapih seperti dipahat oleh seorang ahli pahat modern, sedangkan ini dibangun pada masa Majapahit” kata Mas Sabiyan menambahkan.

Saya pun memperhatikan beberapa detil relief relief yang ada di beberapa candi tertentu di kawasan Candi Prambanan memang indah, dan tiap lekukan atau pahatan batu yang membetuk relief orang atau semacammya sangat detil.

Saya membayangkan alat yang digunakan pada masa itu untuk membangun Candi seperti apa.    Namun yang mengusik saya adalah siapa sesungguhnya yang membangun Candi candi nan Indah dan sangat mendetil ini sedangkan semuanya terbut dari batu batu yang sangat luar biasa beratnya?   Benarkah dibangun oleh para Jin seperti yang dikisahkan dalam brosur tersebut?

Kisah legenda Bandung Bondowoso yang gagal membangun 1000 candi dalam semalam itu dikisahkan dalam legenda dengan bantuan para Jin namun gagal.  Diceritakan betapa murkanya Bandung Bondowoso karena gagal memenuhi syarat 1000 Candi yang diajukan oleh Roro Jonggrang.  Dikisahkan sang Roro Jonggrang dikutuk oleh Bandung Bondowoso menjadi sebuah arca yang dijadikan sebagai pelengkap untuk menggenapi 1000 candi tersebut.

Dari berbagai sumber disebutkan sebenarnya arca tersebut bukan arca Roro melainkan Arca Durga Mahisa Suramardhini, istri  Dewa Siswa yang berada di bilik bagian utama Candi Siwa.

Nah dari kisah inilah akhirnya ada sebutan Candi Prambanan adalah juga Candi Roro Jonggrang.  Demikian kira kira inti dari cerita atau legenda Roro Jonggrang dan Candi Prambanan yang saya kutip dari Brosur Prambanan yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Kawasan Candi Prambanan.   Cukup membantu

Tidak Masuk Ke dalam Candi
Saya mulai memasuki gerbang utama masuk kawasan Candi Prambanan tepatnya memasuki  Gernang Pameran Kampung Kepurbakalaan yang dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta Jl Jogja-Solo Km 15 Boom sleman DIY.   Yang unik dari gerbang ini adalah  ada 3 orang “prajurit” Kraton lengkap dengan atributnya “menjaga” pintu gerbangnya dengan maksud menawarkan diri siapa yang mau foto SELFIE dengan mereka.

“ini pada foto foto sama mereka mbayar nda?” Tanya saya kepada Mas Sabiyan, guide.   “Oh sama sekali tidak silahkan silahkan” jawabnya.    Saya melihat banyak orang orang yang antre berfoto dengan mereka, dan semuanya dilayani dengan ramah dan senyum oleh “pasukan” Kraton itu

Saya pun tidak melewatkan kesempatan yang berharga ini . “ wah ini bagus nih tidak ada bayaran sama sekali, dan saya akan meunggunggu giliran untuk biasa foto dengan mereka” kata saya seolah sedang berbisik kepada orang lain,  padahal berbicara sendiri.

Saya pun mendekati 3 orang “prajurit” keraton itu untuk foto bersama.  Dari 3 foto yang dijepret, hanya 2 yang terbukti yang berhasil terekam dengan baik, sedangkan yang lainnya agak blur atau goyang.  Masuk ke dalam lagi akhirnya saya menemukan sebuah gallery atau diorama candi candi yang dipamerkan.  Kawasan pamerannya cukup luas.  Saya sempat mengisi buku tamu yang sudah disediakan oleh petugas di meja informasi.

Setelah mengisi buku daftar pengunjung, pandangan mata saya tertumbuk pada pohon pohon yang daunnya berupa kertas kertas yang bertuliskan semacam ungkapan atau kata taka.    Di area ini juga ada gedung yang menyajikan informasi tentang Prambanan dalam bentuk pandang dengar atau Audio Visual.  Film khusus yang memutar film tentang Cand Prambanan, letaknya 300 meter namun saya tidak ke sana.

“itu namanya Pohon harapan mas, silahkan menulis pesan dan harapan atau keinginan seperti apa agar masyarakat bisa tergerak hatinya bisa ditulis dalam kertas yang sudah disediakan lalu digantung di pohon ini bersama dengan kartu kartu dari pengunjung lainnya”  jelas mba yang bertugas, Sayang  sekali saya belum sempat melihat nama petugasnya  Salah satu petugas yang hadir di meja informasi seperti mengenakan seragam kampus atau baju sekolah.  Ada yang magang kah di sana?

Saya pun berkeliling di dalam ruangan itu dan memfoto beberapa diorama candi candi yang ada lengkap dengan penjelasannya .   Ketika saya meminta brosur tentang Candi Prambanan tidak menyediakan. “Oh kalau brosur wisata Candi Prambanan bisa diperoleh di pintu luar mas, dekat pintu loket pembayaran ada di sebelah kirinya, di situ ada tourist information center atau TIC bisa diambil gratis di sana” kata mba itu menjelaskan.

Cuaca siang itu yang mulai panas menyengat tidak menyurutkan langkah saya, dan Mas Sabiyan untuk berkeliling ke beberapa sudut yang ada di komplek percandian itu.  

Samsung Galaxy Grand Prime yang saya bawa tidak banyak membantu dalam memberikan preview Frame yang mau dijepret. Walhasil setiap kali “menembak” objek foto hanya perkiraan saja,   Mudah mudahan objeknya focus dan tidak terlalu miring ke kiri atau ke kanan. Kenyataan banyak hasil foto bidikan saya yang tampak terlalu ke kiri dan terlalu ke kanan. Beberapa foto yang diambi bahkan gagal alias tidak terjepret sama sekali.

Padahal volume Android sudah dimaksimalkan agar terdengar suara “cetret” tanda foto berhasil di “tembak”.  Walau sudah volume maksimal, tetap tidak mampu “menandingi” bisingnya suara orang lalu lalang di kawasan Candi.   Mungkin suatu saat nanti saya akan bawa Kamera sungguhan yang berfumgsi benar bemar sebuah digital camera bukan HP berkamera


AUDIO VISUAL :  Yang mau nonton film dokumenter tentang Candi Prambanan bisa datang ke sini.  Foto Asep Haryono
AUDIO VISUAL :  Yang mau nonton film dokumenter tentang Candi Prambanan bisa datang ke sini.  Foto Asep Haryono

FOTO :  Mau berfoto dengan 3 prajurit keraton ini? Memang bukan yang aseli namun cukup memberi warna tersendiri di kawasan candi. Foto Asep Haryono
FOTO :  Mau berfoto dengan 3 prajurit keraton ini? Memang bukan yang aseli namun cukup memberi warna tersendiri di kawasan candi. Foto Asep Haryono

DIORAMA : Saya sempat ke sini untuk mengambil brosur tentang Candi Prambanan namun tersedia   Ada banyak miniatur candi di sini. Foto Asep Haryono
DIORAMA : Saya sempat ke sini untuk mengambil brosur tentang Candi Prambanan namun tersedia   Ada banyak miniatur candi di sini. Foto Asep Haryono

POHON KEHIDUPAN : Silahkan menuliskan pesan dan harapannya bagi kemajuan bangsa Indonesia bisa dipasang di pohon ini Foto Asep Haryono
POHON KEHIDUPAN : Silahkan menuliskan pesan dan harapannya bagi kemajuan bangsa Indonesia bisa dipasang di pohon ini Foto Asep Haryono

GAYA :  Saya tidak harus ada dalam tulisan ini. Namanya juga menceritakan  Namun sebagai bukti aja kalau saya benar benar  ada di kawasan Candi Prambanan ini,  No hoax kan? Foto Asep Haryono
GAYA :  Saya tidak harus ada dalam tulisan ini.  Namun sebagai bukti aja kalau saya benar benar  ada di kawasan Candi Prambanan ini,  No hoax kan

CANDI SEWU :  Ini adalah Miniatur Candi Perwara Candi Sewu.  Dipajang di gedung pameran dan diorama di kawasan candi  Foto Asep Haryono
CANDI PERWARA Ini adalah Miniatur Candi Perwara Candi Sewu.  Dipajang di gedung pameran dan diorama di kawasan candi  Foto Asep Haryono

TANPA KACA :  Bentuk indah daripada Miniatur Candi Sewu ini dikemas dalam wadah tanpa kaca.  Apakah tidak takut kena debu? . Foto Asep Haryono
TANPA KACA :  Bentuk indah daripada Miniatur Candi Sewu ini dikemas dalam wadah tanpa kaca.  Apakah tidak takut kena debu? . Foto Asep Haryono

INDAH :   Salah satu sudut kawasan Candi Prambanan yang saya foto dari luar, dan akan segera masuk ke bagian dalam. Cuaca terik menyengat. Foto Asep Haryono
INDAH :   Salah satu sudut kawasan Candi Prambanan yang saya foto dari luar, dan akan segera masuk ke bagian dalam. Cuaca terik menyengat. Foto Asep Haryono. 


SEMPIT : Karena bukan kamera sungguhan , sisi lain dari kawasan Candi Prambananyang saya jepret tidak maksimal bentuk framena, Foto Asep Haryono
SEMPIT Karena bukan kamera sungguhan , sisi lain dari kawasan Candi Prambanan yang saya jepret tidak maksimal bentuk framenya



Sepeda , Kereta Mini Dan Mobil Golf


Saya pun lanjut berkeliling kawasan candi Prambanan dan bermaksud ingin naik ke atas ke bagian dalam namun saya urungkan mengingat kondisi kaki (bagian jempol) mas Sabiyan, pemandu saya dibalut plester.   Ketika saya tanyakan ada apa dengan kakinya, beliau menjawab

“Oh ini jatuh kemarin malam dari motor, ada luke lecet di jempol kaki tapi sudah disemrpot Milagros mudah mudahan lekas sembuh” jawab Lik Sap.  Milagros adalah air Alkali dalam kemasan botol dengan PH 9,8 dan mengandung Power Scalar Energy dan anti oksidan yang terpercaya mampu mempercepat proses penyembuhan luka luar.  Biasanya untuk luka luar disemprot dengan menggunakan Mila Spray. 

Yang unik kalau saya perhatikan kawasan Candi Prambanan ini adalah letak geografisnya yang unik.  Lokasi candi Prambanan adalah kawasan candi yang menganut agama Hindu ini namun dalam posisi yang berdekatan atau berlatar belakang candi candi beragama Budha.  

Hal ini jelas membuktikan bahwa sejak jaman dulu sikap menghargai dan saling toleransi antar umat beragama sudah terjalin dengan harmonis.  Belun lagi aneka pahatan patung dalam dindin dinding candi yang luar biasa detailnya padahal itu di atas batu yang benar benar batu yang keras.

Kembali menggelitik saya, jadi siapakah sebenarnya yang membangun Candi candi indah dan megah seperti ini?   Benar benar manusia kah?   Sungguh sebuah peradaban yang sudah maju terutama dalam hal ilmu pahat memahat patung di atas batu. Sebuah ketrampilan yang luar biasa yang tetap kontemporer hingga abad ini.

Sayup sayup terdengar suara Adzan Sholat Zhuhur berkumangdang dari kejauhan.  Suaranya jelas terdengar di telinga saya dan Mas Sabiyan.   Saya rasa kunjungan "studi banding" dan napak tilas wisata Candi Prambanan harus segera di akhiri.   Dokumentasi dalam Android saya berupa foto foto terjaga dengan baik, dan sudah saya check semua foto dalam kedaaan baik.

 “Lik Sap nanti kita Sholat Zuhur dahulu di Masjid terdekat ya sekalian nanti makan siangnya di luar saja biar murah meriah”  pinta saya kepada Lik Sap , panggilan akrab Mas Sabiyan ini.  Kami berpikir kalau makan siang di restoran atau rumah makan di kawasan Wisata Candi Prambanan kuatir dihajar harga mahal alias “harga bule”, padahal itu juga belum tentu benar adanya.

Sepanjang koridor jalan menuju pintu keluar Komplek Candi PRambanan, saya melihat  ada Golf Car (Mobil Golf)  Sebutan untuk mobil yang biasa dipakai orang main golf Cuma bedanya mobilnya jauh lebih besar dan memuat orang lebih banyak. Mobil yang konon identik dengan orang kaya bermain golf ini benar benar saya lihat dengan mata kepala sendiri

Biasanya kan mobil golf seperti ini daya tampung hanya 2 orang saja.  Tenpat penyewaannya ada di dekat pintu keluar Candi Prambanan.  Paket Keliling 3 Candi ( Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Sewu) lalu finish di pintu keluar, tartifnya Rp.20.000 per 15 menit.

Untuk hari Senin s/d Jumat tarif regularnya Rp.20.000,- dan untuk kelas VIP nya Rp.200.000- per jam. Hari Sabtu, Minggu Libur tarifnya sama tetap Rp.20.000 per 15 menit atau Rp.250.000,- per jam.   Nah bagi anda yang mau gaya keliling candi bisa menyewa Mobil Golf ini sesuai dengan tariff yang sudah saya sebutkan itu tadi

Mau pake kereta Mini juga bisa kok.   Komplek kawasan Candi Prambanan ini juga menyediakan Kereta Mini yang tentu saja harus membayar sesuai dengan tariff yang berlaku. “ Oh maaf saya kira gratis sebagai faslilitas dalam komplek Candi Prambanan” komentar saya singkat saja.  “ Ya tidak lah, mbayar juga" kaya Lik Sap.

Saya pun mengambil beberapa foto di kawasan penyewaan kereta mini ini.   Saya memfoto sebuah kereta Mini yang menurut saya lebih  mirip truk gandeng, atau mobil dengan gandengan di belakangnya.   Membang bentuk depannya saja yang moncongnya mirip kereta api lengkap dengan lokomotif dan cerobong asapnya.  Tetap saja ban karet yang dipakai. Tarifnya Rp.7.600, ATV Rp.15.000, Kereta Listik cukup haya Rp.5.000.  Cukup merakyat harganya

Mau keliling komplek Candi Prambanan bisa dengan Sepeda juga   Ada memang? Tentu.  Bagi para wisatawan yang ingin merasakan sensasi bersepeda santai berkeliling komplek percandian bisa menuju Bycicle rental (penyewaan Sepeda) dengan tarif untuk sepeda Tunggal (Single Bike)  tunggal Rp.10.000,- sedangkan untuk Sepeda Tandem tarifnya Rp.20.000.

Akhirnya Bisa Foto Bareng Bule
Saya sanga mengagumi pahatan patung atau relief yang ada di beberapa sudut Candi Prambanan baik yan ada di sisi maupun di kanan.  Banyak wisatawan dalam negeri yang senang berfoto di dalam candi, di anak tangganya bahkan di dalam candi

Begitu juga dengan pasangan muda mudi yang asyik berfoto swafoto bergaya di depan candi  Ada yang membuat wajah imut dan culun seperti mengecilkan bibirnya mirip Jeng Kelin di acara TV Swasta.   Masih banyak lagi yang tumpah ruah berfoto swafoto atau SELFIE.   Kawasan Candi sepertinya penuh sesak dengan lautan manusia yang ingin swafoto

Bule bule perempuan yang berpakaian minim dengan memakai kaos oblong dengan nyaris menampilkan bagian tubuh tertentu menjadi pemandangan tersendiri bagi kaum adam.

“rasanya kok tidak lengkap ya  kalau tidak berfoto sana bule yang ada di kawasan candi Prambanan ini” seru saya kepada Mas Sabiyan.  Beberapa bule memang bersliweran ke sana kemari baik perorangan, berdua atau berkelompok. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang saya miliki saya rasa cukuplah mampu kalau sekedar untuk komunikasi sederhana dengan para turis

Bertemu Bule bukan hal yang istimewa buat saya.  Selama kurun 2005-2010 lalu saat saya masih aktif tercatat di Kangguru Indonesia, sering mengadakan meeting dan diskusi di Denpasar Bali yang notabenenya adalah “gudang” nya para bule Australia dan Negara Negara lain kumpul.   Sudah hal yang biasa  , saya pun hunting (berburu) mendekati bule bule dari Negara mana saja sekedar untuk memberi “warna” pada dokumentasi saya.

“Oh sorry” kata sepasang cewek Bule bertopi dengan hanya mengenakan tank top , bercelana pendek.  Rupanya mereka “menolak” untuk diajak foto bersama .  Saya pun tidak menyerah berburu lagi sampai dapat.  Lik Sap pun senyum senyum saja melihat tingkah saya seperti orang yang belum pernah ketemu Bule. 

Kemudian saya bertemu lagi dengan sepasang bule perempuan, dan saya pun memberanikan diri menyapa mereka. Dari obrolan singkat dengan mereka diketahui kala mereka mengaku berasal dari Italia.  Mereka adalah ibu dan anak.

Tapi tapi saya ragu untuk ajak foto bareng dengan mereka padahal situasi sudah mendukung.  Alasannya ya itu tadi kamera saya yang tidak support alias tidak siap.  Masa iya mau minta foto pake kamera si bule? Cetaknya gimana? Apa harus kirim pake email.  Kalau sudah begini peran kartu nama  (name card) penting juga ya. Jadi praktis kalai ada acara greeting dan perkenalan singkat ini tinggal kasih kartu nama aja beres.  Hmmmm.

Langkah kaki kami berdua akhirnya sampai juga di gerbang pintu keluar komplek kawasan Candi Prambanan.  Di sepanjang jalan  ke luar saya terus merekam foto foto keindahan Candi Prambanan dari berbagai sudut.

Saya berharap beberapa foto yang dijepret akan bagus jika dicetak sebagai background kartu ucapan, banner blog atau website atau untuk menambah koleksi perbendaharaan Google  foto Candi Prambanan.  Tentu all right reserved.  Semua foto yang ditampilkan di Blog atau diunggah di website semuanya sudah diberi “tanda air” (water mark) alamat blog saya sebagai informasi umum bahwa foto foto itu ada pemilik hak ciptanya

Saat memasuki gerbang pintu keluar, saya melihat ada 4 (empat) orang turis asing sedang berkerumun di tengah “ Ah akhirnya dapat juga bule yang mau saya ajak foto bareng lumayanlah biar keren di koleksi foto foto ku ada bule nya ”  gumam saya dalam hati

Saya pun meminta izin kepada mereka apakah boleh swafoto  dengan mereka ber 4 “ Okey Sure” kata yang bule cowok yang berkaca mata hitam berkaus warna Biru.

Setelah mendapat permission granted dari mereka, saya pun menyerahkan Android saya kepad Mas Sabiyan agar bisa memfoto kami semua.  Dalam hati saya berharap Lik Sap mampu menjepret dengan baik dalam arti karya foto tidak goyang (blur) atau miring dan posisi foto tepat di tengah sesuai dengan rencana saya   ALhamduillah Lik sap pun berhasil menjalankan “tugas" nya memfoto kami.    Saya lihat hasilnya cukup bagus, jelas dan tidak goyang walau pada bagian kaki kami semua “terpotong”, namun overall sih sudah keren Good Job Mas Sabiyan


BULE : Akhirnya bisa juga foto bareng sama bule Ahahhaa.  Parah parah Gak papa deh penglaris di ujung acara kunjungan ke Candi Prambanan akhirnya bisa juga foto bareng bule..  Foto Lek Sap
BULE : Akhirnya bisa juga foto bareng sama bule. Penglaris di ujung acara kunjungan ke Candi Prambanan akhirnya bisa juga foto bareng bule..  Foto Mas Sabiyan

SUPENIR  :  Guide saya, Lek Sap, berjalan menyusuri kelompok penjual Supenir yang masih satu kawasan dengan Candi Prambanan.  Foto  Asep Haryono
SUPENIR  :  Guide saya, Mas Sabiyan, berjalan menyusuri kelompok penjual Supenir yang masih satu kawasan dengan Candi Prambanan.  Foto Asep Haryono

TIDAK DIMINUM  :  Tersedia air di pintu keluar Kawasan Candi Prambanan. Segar untuk mencuci tangan dan wajah, tapi tidak untuk diminum ya  Foto  Asep Haryon
TIDAK DIMINUM  :  Tersedia air di pintu keluar Kawasan Candi Prambanan. Segar untuk mencuci tangan dan wajah, tapi tidak untuk diminum ya  Foto  Asep Haryono

BIKE RENTAL :  Mau berkeliling kawasan Candi Prambanan dengan bersepeda? Boleh aja. DI sini anda bisa menyewa sepeda tunggal atau tandem dengan harga sewa yang terjangkau.  Foto Asep Haryono
BIKE RENTAL :  Mau berkeliling kawasan Candi Prambanan dengan bersepeda? Boleh aja. Di sini anda bisa menyewa sepeda tunggal atau tandem dengan harga sewa yang terjangkau.  Foto Asep Haryono

MINI TRAIN :  Bosan bersepda di kawasan Candi Prambanan dan ingin naik kereta mini? Mengapa tidak.  Silahkan mampir dan berkelilinglah dengan kereta mini ini.  Foto Asep Haryono
MINI TRAIN :  Bosan bersepda di kawasan Candi Prambanan dan ingin naik kereta mini? Mengapa tidak.  Silahkan mampir dan berkelilinglah dengan kereta mini ini.  Foto Asep Haryono

MOBIL GOLF  :  Memang terkesn borjuis kalau naik mobil golf ini.  Tapi memang ini tersedia bagi siapa saja yang mau berkeliling kawasan candi dengan mobil golf ini.  Foto Asep Haryono
MOBIL GOLF  :  Memang terkesn borjuis kalau naik mobil golf ini.  Tapi memang ini tersedia bagi siapa saja yang mau berkeliling kawasan candi dengan mobil golf ini.  Foto Asep Haryono

MOBIL GOLF  :  Sekelompok wisaawan terlihat sedang bersiap berkeliling kawasan Candi Prambanan dengan naik mobil Golf.  Anda mau?.  Foto Asep Haryono
MOBIL GOLF  :  Sekelompok wisaawan terlihat sedang bersiap berkeliling kawasan Candi Prambanan dengan naik mobil Golf.  Anda mau?.  Foto Asep Haryono

PRAMXIT :  Singkatan dari Prambanan Exit alias pintu keluar dari kawasan Candi Prmbanan ya melalui koridor ini.  Foto Asep Haryono
PRAMXIT :  Singkatan dari Prambanan Exit alias pintu keluar dari kawasan Candi Prmbanan ya melalui koridor ini.  Foto Asep Haryono

INDAH :  Kawasan Candi Prmbaanan memang indah dan mempesona. Saya coba foto dengan menggunakan pohon sebagai frame (bingkainya)..  Foto Asep Haryono
INDAH :  Kawasan Candi Prmbaanan memang indah dan mempesona. Saya coba foto dengan menggunakan pohon sebagai frame (bingkainya)..  Foto Asep Haryono




BAGIAN PENUTUP :  Malioboro Yang Bikin Kangen



Dari Lokasi Mudik di Kulon Progo, Djogjakarta
22 Juni s/d 13 Juli 2016

Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1437 Hijriah saat itu secara resmi jatuh pada tanggal 6 Juli 2016 hari Rabu. Penetapan ini diumumkan secara resmi oleh Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kemenag Jalan M.H.Thamrin Jakarta.
Koran Kedaulatan Rakyat saat itu edisi Selasa, 5 Juli 2016 memberitakan ada sekitar 4,2 Juta Wisatawan dan Pemudik mengunjungi Yogyakarta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dengan kata lain DIY “diserbu” para pemudik yang ingin berlebaran, dan para wisatawan yang ingin mengunjungi obyek wisata di Jogjakarta.

Saya yang saat itu sudah berada di kota Jogjakarta memantau informasi mudik 2016 melalui harian Kedaulatan Rakyat sejak beberapa hari yang lalu sudah gencar memberitakan situasi arus mudik tujuan kota Jogjakarta, dan bagaimana kesiapan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menerima pemudik dan tentu saja para wisatawan dalan dan luar negeri saat itu

Pasar Beringharjo
Saya yang sudah explore Pasar Beringharjo pada tanggal 3 Juli 2016  bisa memastikan bahwa Pasar Beringharjo sudah siap menerima para pengunjung yang ingin berbelanja aneka Batik atau jajanan pasar di kawasan Pasar Beringharjo dan sekitarnya .

Memang secara teknis lokasi Pasar Beringharjo memang “mepet:” dengan kawasan wisata Malioboro yang selalu ramai setiap masa liburan lebaran.  Rata rata kios yang menggelar dagangannya berupa Batik dengan aneka model corak dan harganya sangat memanjakan para wisatawan dan pemudik untuk berbelanja kebutuhan Batik nya untuk dipakai di hari raya.

Pasar Beringharjo tetap menjadi salah satu andalan obyek wisata yang diusung oleh Pemkot Jogjakarta dan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mendulang Pendapatan Aseli Daerah (PAD).

Semakin banyak wisatawan yang berbelanja di Pasar Beringharjo dipastikan akan menggerakan perekonomian warga setempat dan menjanjikan pemasukan yang luar biasa bagi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.   Pasar Beringharjo sebagai icon kota Jogjakarta mengusung tagline “Heaven of Shopping” atau Syurga belanja bagi para wisatawan.

Harian Kedaulatan Rakyat (4 Juli 2016) saat itu juga memberitakan kesiapan Pasar Beringharjo dalam menyukseskan wisata belanjanya untuk wisatawan yang datang berkunjung  Salah satu programnya adalah menyiapkan Local Guide (Pemandu lokal) yang fasih berbahasa Inggris dan memiliki kemampuan memandu dan pengetahuan seluk beluk Pasar Beringharjo.

Para Guide ini berpasangan pria dan wanita dan bertugas menjelskan kepada para wisatawan tentang Pasar Beringharjo dan membantu mereka untuk mendapatkan barang yang dicari di Pasar Beringharjo.

Yang menarik dari penyediaan tenaga Guide di sini adalah tidak hanya diterjunkan pada masa liburan Lebaran tahun ini saja melainkan juga ketika musim libur panjang atau liburan sekolah.  Sayang sekali saat saya berkeliling berbelanja batik di Pasar Beringharjo , saya belum menemukan pasangan Guide yang dmaksud.

Kepadatan Malioboro
Berkunjung ke Jogjakarta tidak akan “sah” jika tidak mampir walau sejenak di Kawasan Wisata Malioboro yang terkenal ke seluruh dunia.   Banyak wisatawan dalam dan luar negeri datang berkunjung ke Malioboro baik untuk berbelanja aneka souvenir, sekedar hang out (bercengkerama) dengan teman bisnis, menginap di hotel atau mencicipi aneka kuliner yang eksotis dengan balutan cita rasanya yang menggugah selera.

Sudah bukan rahasia lagi kawasan Malioboro ini adalah ikon utama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  Yang unik yang saya pantau saat explore Malioboro saat itu,  sudah tidak banyak lagi warung makanan atau kafe berjalan di sepanjang malioboro di sebelah kiri.

Kalau anda masuk kawasan Malioboro dari Stasiun menuju ke arah selatan, nyaris tidak banyak tenda makanan atau jajanan di sebelah kirinya   Mungkin ini salah satu gebrakan dari Pemkot Jogjakarta untuk lebih menata kawasan Malioboro menjadi lebh sejuk diliat, dan tidak meninggalkan kesan kumuh atau terlalu padat.

Saat saya memasuki Pasar Beringharjo memang sedikit kesulitan saat ingin memarkir kendaraan motor.   Salah satu kenyamanan para wisatawan saat berbelanja di Pasar Beringharjo adalah jaminan kendaraan yang diparkir aman.  Membayar karcis parkir adalah sebuah keniscayaan, dan sangat wajar.    Begitu pula dengan Malioboro.

Otoritas pengelola Malioboro pun menghimbau para mudikers atau wisatawan untuk memarkir kendaraannya di luar kawasan Malioboro.     Bagaimana dengan lokasi perparkiran di Pasar Beringharjo?

Pengelolaan Perparkiran memang menjadi salah satu hal yang sudah diperhitungkan oleh otoritas Pasar Bering harjo dalam hal ini Pemkot Jogjakarta.  Parkir di sembarang jalan (On street parking) memang menjadi kendala  Banyaknya parkir yang tidak rapih hingga memakan badan jalan sering mengganggu kenyamaman para pejalan kaki yang melintas atau datang ke Pasar Beringharjo.

Namun syukurlah akhirnya saya mendapatkan lahan kosong yang tidak produktif sebagai lokasi parkir massal yang dikelola oleh pihak swasta yang tidak saya kenal.  Dari busana yang dipakai sang “petugas parkir” yang terkesan seadanya, kumal dan mirip penampilan preman memang sedikit membuat ciut nyali yang melihatnya

Namun saat tanya berapa harga karcisnya mas?” langsung dijawab dengan bahasa yang halus “ya mas”.  Buyar sudah gambaran yang ada di benak kepala saya   Walau petugas parkir liar tersebut berpenampilan preman namun dari tutur bahasanya yang halus membuyarkan anggapan negative saya terhadap juru parkir liar ini.  Mereka sangat santun dalam bertutur kata.  Saya jadi salah tingkah dibuatnya

Mungkin saran saya agar sedikit “dipoles” lah penampilan para petugas parkir liar ini agar tidak berbusana “ala kadar” nya seperti itu     Tidak perlu harus mengenakan Batik atau kemeja berkerah,  yang penting rapih, sopan dan bersih     Harapan wajar saya sebagai pengunjung Pasar Beringharjo yang mungkin saja harapan bagi para wisatawan lainnya.

Kawasan Malioboro diperoyeksikan sebagai kawasan ideal pedestrian memang patut didukung dengan pengeolaan arus kendaraan keluar masuk dari dan ke kawasan Malioboro.

Oleh karena itu otoritas Malioboro saat itu sudah menyiapkan sejumlah rekayasa untuk memperlancar arus kendaraan menuju dan keluar Malioboro antara lain dengan menambah durasi lampu pemberi isyrarat lalu lintas atau Traffic light, penyebaran rambu alternatif dan pemasangan pembatas di ruas ruas jalan tertentu

Sistim buka tutup yang sering diterapkan dalam pengelolaan lalu lintas di kota padat kendaraan seperti Jogjakarta menjadi “Senjata” utama mengurai kemacetan arus lalu lintas.  Khusus di kawasan Malioboro penerapan (Sistem buka-tutup) di pintu masuk sisi utara   Hal ini berarti pengendara harus memutar  hingga kawasan Stadion Kridosono.

Peta Obyek Wisata dan Kuliner DIY
Harian Kedaulatan Rakyat pada edisi tanggal  2 Juli 2016 juga misalnya memuat beberapa halaman penuh dengan promo paket kuliner dari beberapa Hotel berbintang di Jogjakarta.   The Sahid Rich Jogja, Hotel Fave Kusumanegara, Grand Tjokro Yogyakarta, Pondok Makan Pelem Golek adalah contohnya  Mereka berlomba memajang paket Halal Bihalal dan Menu Kuliner andalannya masing masing di koran tersebut.

Dari sinilah saya melihat wisata kuliner gencar di kampanyekan oleh otoritas Jogjakarta.  Memanjakan para mudikers dan memberi service yang baik bagi para wisatawan Dalam dan Luar Negeri dengan aneka kuliner Jogjakarta yang sangat luar biasa promosinya.

Harian Kedaultan Rakyat (KR) edisi hari Senin 4 Juli 2016 misalnya memberikan 1 halaman penuh full colour berupa Peta Objek Wisata dan Kuliner Khas DIY 2016.   Penyaji materi halaman ini adalah Wawan Isnawan , Hanik Atfiati , Agus Waluyo , Khocil Birawa , Surya Adi Lasmana ,  dengan grafis yang sangat indah dibuat oleh Joko  Santoso.

Pada bagian bawah peta Wisata dan Kuliner itu ada space iklan yang disewa oleh Jogja, The City Of Ramingten. Sebuah group usaha rumah makan dan retoran yang dikelola oleh Ramingten Group yang memiliki cabang di Jalan FM Noto 7 Kotabaru dan Jalan Kaliurang Km 16 Jogjakarta

Ada 44 (empat puluh empat) keterangan tempat wisata dan 26 (Dua puluh enam) spot Kuliner khas Yogyakarta yang tercetak diperta tersebut.  Saya melihat dengan seksama daftar tempat makan (rumah makan / restoran) yang ada di peta tersebut tidak satupun yang memuat yang dari Kulon Progo tempat basecamp mudik lebran saya sekarang ini.

Ada Warung Sate Mbahh Margo yang sangat terkenal se Indonesia yang tidak tercantum dalam daftar di lembaran peta wisata itu.  Mungkin saja dari pihak Warung Sate Mbah Margo ini tidak menyewa space iklan dihalaman tersebut?  Saya tidak tahu.

Yang membanggakan saya sebagai warga Kulon Progo dicantumkannya beberapa tempat wisata Kulon Progo  dalam daftar 44 tempat wisata dipeta itu antara lain Puncak Suroloyo (Wisata Pegunungan) , Pemandian Clereng (Wisata Air),  Waduk Sermo (Wisata Air),  Giri Ganda (Wsata Sejarah) , Pantai Congot (Wisata Pantai), dan Pantai Glagah (Wsata Air).

Yang saya heran mengapa Obyek wisata Kalibiru Kulonprogo tidak tercantum dalam daftar 44 Tempat Wisata pada harian Kedaultan Rakyat edisi Senin tanggal 4 Juli 2016 itu?.  Obyek Wisata Kalibiru ini tercantum dalam majalah inflight Maskapai penerbangan LION AIR edisi bulan Juni 2016 yang lalu.  Dari foto foto yang ditampilkan dalam majalah LION AIR it foto tampak  obyek wisata Kalibiru yang eksotis sudah mirip pantai di Kuta Bali.  Inilah lokasi wisata rahasia tersembunyi di Kulon Progo yang seharusnya sudah tercantum dalam lembaran peta wisata Jogjakarta saat itu

Pada halaman 15 , rubrik JAWA TENGAH pada Koran Kedaultan Rakyat pada tanggal tersebut juga mencantumkan kesiapan 3 (tiga) Tujuan Wisata Candi (TCW) yang utama yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Boko juga sudah bersiap menyambut para pemudik dan wisatawan yang ingin datang melihat dan menikmati eksotisme ketiga candi tersebut.  Otoritas pengelola ketiga candi tersebut , tulis harian Kedaulatan Rakyat ,  saat itu sudah sangat siap menerima para wisatawan.   Sungguh sebuah pengalaman Liburan yang mengesankan selama di Kulon Progo, dan saya ingin sekali berwisata ke  Jogjakarta lagi dan ingin menjelajahi kota itu seutuhnya. Semoga  (Asep Haryono)



BULE : Sekelompok turis asing sedang dirias tato nya di areal kawasan Malioboro (25/7).  Ada yang kenal dengan mereka?  Foto Asep Haryono
BULE : Sekelompok turis asing sedang dirias tato nya di areal kawasan Malioboro (25/7/2016).   Foto Asep Haryono
SUPENIR :  Kawasan Malioboro adalah syurganya belanja supenir, Kaos dan aneka cindera mata khas Djogja.  Semuanya ada di sini. Silahkan tawar menawar dan dapatkan harga dan kualitas yang baik. Foto Asep Haryono
SUPENIR :  Kawasan Malioboro adalah syurganya belanja supenir, Kaos dan aneka cindera mata khas Djogja.  Semuanya ada di sini. Silahkan tawar menawar dan dapatkan harga dan kualitas yang baik. Foto Asep Haryono
BATIK  :  Om saya sedang menawar batik di sebuah kios di bagian bawah Pasar Beringharjo. Jika harga sudah standar tidak perlu ditawar lagi  Foto Asep Haryono
BATIK  :  Mas Sabiyan, pemandu saya, sedang menawar batik di sebuah kios di bagian bawah Pasar Beringharjo. Jika harga sudah standar tidak perlu ditawar lagi  Foto Asep Haryono

PETA :  Edisi spesial Kedaulatan Rakyat (KR) tanggal 4 Juli memuat peta obye wisata dan kuliner khas Jogya 2016.  Excellent idea. Foto Asep Haryono
PETA :  Edisi spesial Kedaulatan Rakyat (KR) tanggal 4 Juli memuat peta obye wisata dan kuliner khas Jogya 2016.  Foto Asep Haryono

No comments:

Post a Comment