Supadio Kembali Tutup Satu Jam Lebih

Foto Pontianak Post
SUNGAI RAYA—Kabut pekat karena sebaran asap dan embun (fog) kembali membuat schedule (jadwal) tetap penerbangan di Bandara Supadio Pontianak berantakan. Hanya saja kali ini intensitas waktunya lebih pendek. Kalau sebelumnya Managemen PT Angkasa Pura II Supadio menutup bandara selama 1 jam 30 menit, kali ini hanya 1 jam 20 menit.

”Kita baru open normal penerbangan hari ini (kemarin)  sekitar pukul 07:20 Wib,” ungkap Syarif Usmulyani Alkadrie Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Cabang PT Angkasa Pura II Cabang Supadio Pontianak, Rabu (20/6).Menurutnya sama seperti yang lalu beberapa penerbangan terjadi keterlambatan penerbangan yang berangkat atau mendarat dari dan ke Bandara Supadio Pontianak Kalimantan Barat.

”Shedulenya penerbangan dari beberapa maskapai tetap delay (kembali). Ini karena jarak pandang (visibility) terlalu bahaya bagi keselamatan penumpang,” ucapnya. Usmulyani menjelaskan pekatnya udara di Kalbar terutama subuh hari dan pagi hari penyebab utamanya selain banyaknya muncul titik api yang mengakibatkan asap  juga embun (fog) yang menyelimuti kawasan Bandara. Dari subuh pagi hari pukul 05:30 sampai 06:00 Wib, visibility untuk penerbangan antara 0-100 meter. 


Kemudian, lanjutnya, baru pukul 06:00 Wib ke atas, jarak pandang dapat dilihat antara 200-300 meter. Dan pada pukul dan 06:30 Wib, naik menjadi 700 meter. Pukul pada pukul 07:00 Wib, jarak pandang sudah di atas 800 meter. “Itu jarak yang dibolehkan melakukan aktivitas penerbangan dari dan ke Bandara Supadio, Pontianak,” ungkap dia.

Lebih jauh dikatakannya open normal di Bandara Supadio Pontianak sesuai schedule penerbangan tetap pukul 06.00 WIB. Namun demi menjaga safety dan keselamatan penerbangan, bandara kali ini dibuka pada pukul 07:20 Wib. ”Ketika penutupan terjadi beberapa maskapai penerbangan baik yang berangkat maupun bertolak seperti Batavia, Garuda, Lion, Sriwijaya, Kalstar dan Indonesia Air Transport menunggu jarak pandang normal untuk dapat terbang,” ujarnya.

Dia kembali menjelaskan pekatnya udara Kalbar di subuh dan pagi hari sepertinya menjadi peristiwa tahunan. Kalau terus dibiarkan seperti begini, dampaknya akan terasa bagi daerah. Kedepan harus ada langkah kongkrit untuk menuntaskan soal musim panas, cuaca pekat dan kabut asap. ”Harus satu kesatuan. Kalau tidak daerah kita akan terus dikatakan sebagai pengekspor asap terbesar,” katanya.

Kalau kedepan Kalbar hanya sebagai pengekspor asap, maka daerah sendiri yang akan rugi. Tidak saja dunia penerbangan, sisi kerugian perekonomian juga akan dirasakan daerah ini. ”Ini memang butuh langkah terpadu menyatukan persepsi agar penyakit tahunan Kalbar penghasil asap tidak muncul,” ujarnya.

Sebelumnya Usmulyani menambahkan pekatnya kabut di Bandara Supadio Pontianak semata-mata bukan karena persoalan pembakaran lahan. Ini lebih disebabkan fog atau embun yang terbentuk dari uap air akibat pemanasan permukaan bumi. Belum lagi kawasan di Kalbar pada umumnya berlahan gambut dan cenderung lebih dominan panas. Dengan begitu partikel air akan naik ke atas dan membentuk kabut pekat. Meskipun demikian, asap akan terus mengepul kalau proses pembakaran lahan atau hutan dilakukan. “Kita hanya berharap masyarakat sekitar dan Kalbar menahan diri tidak membakar lahan saat ini,” ungkap dia. (den)

Sumber : Pontianak Post

No comments:

| Copyright © 2013 Kubu Raya Mandiri