Warga Lestarikan Tradisi Bakar Jagung

Foto arrumwidya.files.wordpress.com
SUNGAI RAYA – Merayakan malam pergantian tahun, tidak perlu biaya mahal. Kalau kebanyakan masyarakat memilih berlibur ke luar Kalbar hingga ke luar negeri, mayoritas warga Kubu Raya dan sekitar memiliki cara dan tradisi unik untuk merayakan.

Misalnya tradisi bakar jagung dan ayam buat disantap beramai-ramai dan hampir setiap tahun dilakukan. Biasanya dalam acara tersebut diselingi berkumpul bersama keluarga, teman, dan diselingi alunan musik.

“Setiap tahunnya, kami selalu berkumpul-kumpul dengan keluarga menyambut pergantian tahun baru. Ini untuk menambah akrab tali silaturahmi saja. Tradisi itu biasanya dilanjutkan dengan acara bakar jagung dan ayam,” kata Sri Suharyanti, warga Sungai Raya ditemui ketika membeli jagung di Rasau Jaya, Sabtu (31/12) sore.

Menurut dia, tradisi bakar jagung dan ayam sudah menjadi acara tahunan keluarga dan kawan-kawannya. Akan tetapi sebenarnya bukan itu esensi memperingati datangnya tahun baru. Yang terpenting adalah ajang berkumpulnya keluarga juga kawan-kawan.


” Istilahnya yang jauh mendekat dan dekat semakin akrab. Itu motto dalam keluarga kami ketika berkumpul di hari tertentu, tidak saja di tahun baru juga hari raya Idulfitri dan lain,” ungkap dia yang mengaku keluarganya dari Sambas dan Jakarta juga ikut berkumpul.

Selain membakar jagung dan ayam, lanjut Yanti, acara biasanya diselingi memasak menu lainnya di rumah. Seperti pada hari raya tertentu, kali ini keluarga Sri, sapaan karibnya, juga membuat lontong dan makanan ringan. Kegiatan mengoreng dilakukan bersama keluarga dan dimulai pada pukul 21.00 WIB hingga 01.00 WIB dini hari.

"Dan ketika menjelang detik pergantian tahun, kami juga menghidupkan kembang api tidak lupa terompet dipegang masing-masing. Sambutan ini bagi keluarga kami dimaknai tahun ini harus lebih baik dari tahun depan," tuturnya. Fajar, warga Desa Arang Limbung, memperingati acara tahun baru dengan cara tersendiri. Dalam kekurangan, mereka sekeluarga memaknainya dengan berdoa bersama dan berkumpul keluarga.

“Ini sudah berkah bagi keluarga. Biasanya saya beli ayam satu ekor untuk dipotong-potong dan digoreng. Kemudian kami bersantap setelah sebelumnya salat Isya bersama,” kata pegawai upahan ini. Dalam doa keluarga yang dipimpin bapaknya terus meminta supaya Tahun 2012 bencana atau balak dihindarkan. Mereka sekeluraga berharap, tahun mendatang segala sesuatunya lebih lancar. ”Hanya itu doa kami,” ungkap dia.

Kegiatan bakar jagung dan ayam tidak hanya dilakukan perorangan dan keluarga. di Kubu Raya, organisasi kemasyarakatan atau instansi perkantoran negeri dan swasta juga larut dalam euphoria acara. Mereka membuat acara masing-masing demi melewatkan malam pergantian tahun baru dengan kesan mendalam.

Dampak acara pergantian tahun  baru juga menjadi pemasukan kepada para pedagang jagung dan ayam. Di Rasau Jaya sebagai salah satu sentral penghasil jagung, biasanya penjual menjual jagung dengan harga murah. “Satu karungnya bisa Rp150 ribu – Rp200 ribu. Kalau perbuah harganya mulai Rp1.000 – Rp1.200,” ucapnya.

Harga jual komuditi tersebut bisa berbeda dengan yang diperdagangkan di Pasar Flamboyan Pontianak yang mencapai dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasanya. Sebagai sentral penjualan jagung bagi warga Pontianak, pedagang biasanya menjualnya dengan harga mulai dari Rp2 ribu perbuah hingga Rp3.500. (den)

Sumber : Pontianak Post

No comments:

| Copyright © 2013 Kubu Raya Mandiri