Masyarakat Dituntut Bangun Ketahanan Pangan

SUNGAI RAYA—Masyarakat Kalbar dituntut mampu membangun ketahanan pangan. Pasalnya Kalbar, sebagai wilayah dan areal pertanian mampu menghadirkan panen seperti beras dalam stok besar. Itulah tema Ritual Naik Dango yang berlangsung di Rumah Betang, Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Dalam acara tersebut Naik Dango dihadiri langsung Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan juga berbagai undangan di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalbar dan Pemkab Kubu Raya.  Gubernur Kalbar, Cornelis mengatakan potensi masyarakat mengembangkan ketahanan pangan sangat baik. Sebab, saat ini masyarakat Kalbar sudah dapat melakukan panen dalam setahun dua kali.

“Selain padi, mereka juga bisa menanam yang lain seperti jagung dan ubi. Agenda ini untuk dijadikan tahunan masih menjadi persoalan karena dalam mengelola anggaran tidak terlalu sulit,” katanya seusai melakukan pembukaan naik dango ke 27 di Desa Lingga Kecamatan Sungai Ambawang, Kamis (3/5).  Menurut dia salah satu tujuan dengan ketahanan pangan adalah supaya masyarakat tidak lagi melakukan penanaman di bukit-bukit dan lebih memilih melakukan penanaman di ladang.


“Dalam kegembiraan ini bagaimana kita menampilkan kebudayaan yang punya nilai positif yang bisa kita tawarkan kepada mancanegara. Kita hanya keterbatasan dana, keterbatasan mengelola organisasi dengan baik. Namanya organisasi modern baru belajar ketika Indonesia merdeka. Pada jaman dahulu kita tidak pandai berorganisasi,” tuturnya.

Ia menambahkan potensi lahan di Kalbar sangat baik untuk wilayah dengan ketahanan pangan. Namun kita belum terurus dengan baik, terutama masalah pengairan, modal, dan sumber daya  manusia (SDM). “Karena kalau jadi petani itu pekerjaan yang tidak bagus, tidak menjanjikan. Tapi sekarang sudah cukup menjanjikan dan sama halnya dengan beternak, perikanan dan lain sebagainya. Kita bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk tidak mengimport dari luar, miniman itu bisa menghidupi keluarga mereka sendiri,” ucapnya.

Lebih jauh dikatakannya untuk bersaing dengan negara luar yang selama ini menjadi pemasok beras, masyarakat  petani harus optimis. “Jika bisa harus lebih dari Thailand, karena potensi kita lebih baik dari Thailand,” ungkap dia. Sementara Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan mengatakan kegiatan naik dango bermakna mensyukuri panen hasil bumi. Itu juga memberikan makna jika pangan merupakan hal yang sangat mendasar bagi masyarakat.

“Naik Dango harus memberikan semangat bagi masyarakat untuk bercocok tanam agar lebih produktif lagi dan lebih baik lagi. Kaitan dengan konteks kita Kubu Raya, yaitu penguatan kemandirian pangan rumah tangga maupun daerah, tentu dengan mengaktualisasikan budaya seperti naik dango tersebut tentu membangun semangat dan optimisme masyarakat jika lahan tidur harus di produktifkan,” ujarnya.

Bupati Muda menambahkan tema Naik Dango untuk Indonesia dan sama dengan Motto Kubu Raya untuk Indonesia itu merupakan sebuah spirit naik dango jangan dilihat hanya etnisnya, tapi dilihat makna dan esensinya.

“Sehingga semua etnis memiliki suatu rasa syukur dan sama-sama membangun kebersamaan, terlebih dahulunya semua ini satu kabupaten namun sekarang dipecah menjadi tiga kabupaten. Dengan pemekaran ini tentu membuat masyarakat lebih cepat maju, dan hasil cocok tanam lebih cepat berkembang,” katanya seraya menambahkan agenda naik dango merupakan sebuah hasanah budaya yang benar-benar menjadi sumber kekuatan religius, ekonomi dan kekuatan perekat bagi masyarakat.(den)

Sumber : Pontianak Post

No comments:

| Copyright © 2013 Kubu Raya Mandiri